Sejarah Mahatva : Berdiri, Tumbuh, dan Mengakar

5/5 - (2 votes)

Dalam pengelolaan dan pembentukan karakter mahasiswa baru, Fakultas Pertanian (Faperta) Unpad memiliki sistem pola pembinaan yang berjenjang. Pola pembinaan tersebut wajib diikuti oleh mahasiswa baru, diawali dengan Penerimaan Anggota Muda (PAM) dan Masa Bimbingan (MABIM). Kegiatan pola pembinaan ini memiliki luaran berupa individu dan kelompok kecil yang memiliki karakteristik unik dalam konteks non-akademik, salah satunya adalah bentuk kegiatan kemahasiswaan wadah-wadah terstruktur.

Salah satu wadah tersebut adalah Mahatva. Berdirinya Mahatva pun diawali dari obrolan-obrolan ringan beberapa orang mahasiswa Fakultas Pertanian Unpad Angkatan ‘92 pada masa-masa setelah mengikuti PAM dan MABIM. Seiring berjalannya waktu, percakapan antar individu di Angkatan ’92 pun akhirnya mulai menyinggung aktivitas kegiatan alam terbuka, khususnya pendakian gunung.

Hal ini diinisiasi oleh Muhammad Taufik, atau Kang Ceper–salah satu mahasiswa baru angkatan 1992 yang jenuh dengan aktivitas penataran di Faperta, berupa Penataran P4 yang berisikan materi tentang Pancasila dan Kewarganegaraan, dengan bobot selama 60 jam atau 1  minggu. Kang Ceper pun mengajak beberapa orang untuk naik Gunung Ciremai.

Aktivitas pendakian ini akhirnya diikuti oleh beberapa mahasiswa Angkatan ’92, yaitu alm. Kang Dais, Kang Kokom, Kang Bule, Kang Imo dan Kang Deni Cengek. Awalnya, pendakian ini hanya bersifat sebagai aktivitas bersenang-senang saja. Namun setelah pendakian, terjadilah obrolan serius untuk membentuk suatu wadah di Faperta yang mengakomodir mahasiswa pecinta alam untuk berkegiatan.

Kang Kokom–setelah pulang dari pendakian Gunung Ciremai, menyampaikan kabar ini ke seluruh Angkatan ’92. Salah satu motivasi pembentukan organisasi, bukan hanya untuk menyalurkan hobi berkegiatan di alam bebas, melainkan agar memiliki “rumah” saat rindu kampus.

Aktivitas pembentukan organisasi ini mulai intens dilakukan pada akhir 1992. Pembentukan pun dikelola oleh beberapa mahasiswa Angkatan ‘92 yang sudah pernah mengikuti kegiatan ekstrakulikuler pencinta alam semasa SMA-nya. Mereka pun memulai rapat pembentukan organisasi di rumah Kang Deni Cengek di Cicadas, Bandung. Seketik, mereka pun menjadikan rumah Kang Deni Cengek sebagai sekretariat.

Sebagai modal awal untuk mengetahui bagaimana mengelola dan menjalankan organisasi pegiat alam terbuka, Kang Ceper berinisiatif untuk mengikuti pendidikan Search and Rescue (SAR) Unpad. Sepulangnya dari pendidikan SAR, Kang Ceper pun menyusun berbagai kelengkapan administrasi yang dirasakan ideal untuk organisasi alam terbuka, dan berinisiatif bahwa kurang afdol rasanya jika tidak dilakukan suatu prosesi pengukuhan dan penamaan organisasi.

Akhirnya sekumpulan mahasiwa Angkatan ‘92 ini pun sepakat memberi nama perkumpulan ini dengan nama “Cantigi” (diusulkan oleh Kang Ceper). Cantigi diambil dari nama sebuah tanaman yang hanya hidup di dataran tinggi, dengan filosofi bahwa perkumpulan ini diharapkan dapat tetap hidup/eksis serta berkembang menjulang tinggi sebagaimana tempat tumbuhnya tanaman Cantigi tersebut.

Pemantapan keanggotaan Cantigi ini dijalani dengan melakukan perjalanan secara mandiri (hanya Angkatan ‘92 saja) dari Gunung Manglayang, Gunung Ciremai, Gunung Puntang, Gunung Papandayan, sampai dengan Pangalengan. Cantigi diresmikan pada tanggal 28 November 1992, bertempat di Pondok Saladah, Gunung Papandayan (Gambar 1). Saat itu, Kang Abdul Haris Nurul Yakin atau biasa dipanggil Kang Datuk, dikukuhkan untuk menjadi ketua secara aklamasi. Logo organisasi, yang berupa tanaman Cantigi, didesain oleh Kang Irawan angkatan ‘92 dengan syal berwarna hitam.

Gambar 1. Pembentukan Cantigi
Gambar 1. Pembentukan Cantigi

Selayaknya organisasi lain, Cantigi pun memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, yang penyusunannya mengadopsi dari kelompok pencinta alam SMA Negeri 20 Bandung, Dwidasapala, yang merupakan SMA tempat Kang Ceper. Tentunya, AD ART ini telah dimodifikasi. Gaung Cantigi pun sampai ke Fakultas Sastra (Fasa; sekarang Fakultas Ilmu Budaya), dimana mahasiswa Fasa ingin meniru dan mempelajari bagaimana membentuk organisasi alam terbuka.

Akibatnya, informasi keberadaan Cantigi ini terdengar dan mendapat respon dari mahasiswa senior Faperta yaitu melalui obrolan-obrolan ringan lintas angkatan dan fakultas (mulai Angkatan ‘83 s.d. ‘91). Keberadaan Cantigi sebenarnya menjadi polemik bagi para senior Faperta, karena pada saat itu Angkatan ‘92 sebagai pendiri Cantigi belum menyelesaikan MABIM sebagai prasyarat diterima sebagai anggota penuh KMFP.

Sesuai aturan KMFP, mahasiswa yang belum lulus MABIM (satu tahun) masih merupakan anggota pasif yang hanya punya hak bergabung namun belum bisa terlibat sebagai pengurus apalagi membuat organisasi. Sebetulnya, Faperta telah memiliki organisasi serupa yang bernama Gerakan Pecinta Lingkungan Hidup (GPLH), dan keberadaan Cantigi dianggap sebagai tandingan dari organisasi sejenis (GPLH). Polemik ini berlanjut hingga beberapa anggota Cantigi disidang secara informal oleh panitia MABIM yang saat itu di pegang oleh Angkatan ‘90 (Gambar 2).

Gambar 2. Cantigi, cikal bakal PMPR & PG Mahatva (1992)
Gambar 2. Cantigi, cikal bakal PMPR & PG Mahatva (1992)

Namun show must go on, kenekatan Angkatan ‘92 untuk tetap melanjutkan Cantigi walaupun dianggap sebagai organisasi gelap. Hal ini pun berlanjut hingga terjadinya musyararah di warung “Si Ema”. Warung tersebut dahulu-nya terletak di sekitar Gedung Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman (HPT), dimana gedung ini memiliki fungsi alternatif sebagai gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Gedung tersebut biasa digunakan para mahasiwa pertanian untuk berkumpul selepas aktivitas akademik.

Di lokasi tersebut, para anggota Cantigi dan senior Faperta yang dimotori oleh Pak Atam (Angkatan ‘86), Kang Bungsu (Angkatan ‘86), Kang Rohman (Angkatan ‘83), Kang Devi “Devil” Hermanto (Angkatan ‘87), dan Kang Tubagus “Hendra” Suherman (Angkatan ‘87), bersama dengan Ketua GPLH yaitu Kang Kimung, berembuk untuk mencapai kata mufakat. Para anggota Cantigi berpendapat bahwa mereka tidak mengetahui jika GPLH eksis maupun aktif di Faperta, kalau pun aktif, mereka berargumen bahwa marwah GPLH dan Cantigi berbeda. Perbedaannya terletak pada core activities yang dijalankan. Mereka pun berargumen, pada saat proses perkenalan UKM kepada mahasiswa baru, GPLH tidak masuk untuk memperkenalkan diri mereka, yang ada hanyalah UKM Genera, Teater, dan UKM lainnya.

Akhirnya, Kang Kimung–selaku Ketua GPLH, mempersilahkan Cantigi untuk tetap ada, dengan syarat organisasi ini harus diangkat menjadi milik Faperta. Kang Devil dan Kang Hendra pun berpendapat bahwa harus ada prosesi peresmian perhimpunan di level Fakultas. Mufakat pun tercapai dan tak lama setelah itu, diadakan kegiatan orienteering di seputar Gunung Manglayang antara Angkatan ’92 dan para senior Faperta lainnya yang dikoordinir oleh Kang Devil dan Kang Hendra. Tujuannya adalah agar semua individu bisa saling mengenal dan akrab. Beberapa waktu setelah kegiatan orienteering tersebut, terdapat diskusi menarik terkait nama perhimpunan, logo/lambang, dan kelengkapan perhimpunan lainnya. Adapun 3 (tiga) nama yang diusulkan untuk nama perhimpunan adalah:

  1. Wukir Alas
  2. Cantigi
  3. Mahatva

Setelah melalui beberapa kali diskusi lintas angkatan, akhirnya nama Mahatva dipilih secara aklamasi. Nama Mahatva dicetuskan oleh Kang Hendra yang berasal dari bahasa Sansakerta yang memiliki makna Pejuang Sejati. Nama ini memiliki harapan besar agar anggota Mahatva memiliki jiwa sebagai seorang pejuang/patriot sejati, tangguh, dan pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.

Selain nama Mahatva, yang menjadi bahan diskusi lintas angkatan ini adalah domain dari Mahatva, yaitu antara memakai domain “Mahasiswa Pencinta Alam” atau “Perhimpunan Mahasiswa  Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung”. Setelah melalui diskusi yang cukup alot, akhirnya disepakati untuk domain dari Mahatva adalah “Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung” dan disingkat menjadi PMPR & PG MAHATVA. Pertimbangan pemilihan domain PMPR & PG ini tidak lepas dari tujuan pendirian Mahatva, yakni sebagai penyaluran hobi berkegiatan di alam bebas terutama di medan gunung hutan dengan tidak mengesampingkan bahwa Mahatva akan ikut berperan aktif dalam kegiatan pelestarian alam.

Seperti halnya sebuah organisasi yang mapan, Mahatva tentu memerlukan lambang atau logo sebagai identitasnya. Dalam diskusi lintas angkatan tersebut, topik yang dibahas mencakup lambang atau logo Mahatva beserta benderanya. Logo Mahatva yang digunakan saat ini dirancang oleh Kang Devil, dengan desain berbentuk empat persegi panjang yang memuat delapan arah mata angin di dalamnya. Warna yang digunakan dalam logo tersebut terdiri dari hijau rimba sebagai warna dasar, dilengkapi dengan biru, oranye, dan putih (Gambar 3).

logo mahatva
Gambar 3. Logo Mahatva

Pada awal berdiri, bendera Mahatva terdiri dari satu jenis, yaitu berbentuk persegi panjang yang hanya terdiri dari dua warna yaitu warna hijau rimba di bagian bawah dan atas serta warna putih di bagian tengahnya dengan tulisan “Mahatva” berwarna hijau di tengahnya (Gambar 4).

Gambar 4. Panji Mahatva
Gambar 4. Panji Mahatva

Identitas lainnya adalah syal, yaitu kain berwarna hijau rimba berbentuk segitiga dengan logo Mahatva di bagian tengahnya (Gambar 5).

Gambar 5. Syal Mahatva
Gambar 5. Syal Mahatva

Akhirnya, setelah kegiatan orienteering yang menghasilkan nama dan kelengkapan perhimpunan, maka dilakukan pengukuhan eksistensi dan keanggotan PMPR & PG MAHATVA. Pengukuhan ini dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 28-29 November 1993 bertempat di Gunung Manglayang (Gambar 6), Sumedang, Jawa Barat dilakukan prosesi pengukuhan organisasi dan keanggotaan Mahatva yang diikuti oleh angkatan ‘83 sampai dengan angkatan ‘92 yang berjumlah 36 orang.

Gambar 6. Prosesi pengukuhan Mahatva
Gambar 6. Prosesi pengukuhan Mahatva

Pada tahun pertama, PMPR & PG MAHATVA dipimpin oleh Dewan Pengurus I yaitu Kang Devil (M 001 Pendiri) dengan sekretariat yang berlokasi di bangunan PKM. Tahun pertama berjalan, PMPR & PG MAHATVA belum mempunyai sekretariat dan perlengkapan yang memadai, hanya bangunan berdinding tripleks yang merupakan bangunan bekas proyek pembangunan kampus, namun bermodalkan keinginan dan tekad yang kuat untuk merintis suatu organisasi yang diharapkan menjadi suatu organisasi yang besar dan disegani.

Selain pengukuhan tersebut, untuk mendapatkan Nomor Pokok Anggota (NPA) maka dilakukan perjalanan/ekspedisi oleh masing-masing anggota Pendiri (Gambar 7) yang dibagi ke dalam beberapa regu, dengan lokasi pendakian antara lain: Gunung Cikuray Garut, Gunung Slamet Jawa Tengah, dan beberapa lokasi lainnya. Lokasi tersebut dipilih atas pertimbangan beberapa prasyarat, yaitu (1) pendakian gunung yang memiliki ketinggian minimal 3000 mdpl dan (2) penyusuran bibir pantai sejauh ~50 kilometer.

Gambar 7. Angkatan Pendiri di depan Sekretariat Mahatva pertama, persiapan menuju ekspedisi kecil
Gambar 7. Angkatan Pendiri di depan Sekretariat Mahatva pertama, persiapan menuju ekspedisi kecil (1993)

Tahun-tahun awal Mahatva berdiri sebagai organisasi resmi di bawah KMFP merupakan masa dimana semangat dan kekompakan menjadi satu jiwa korsa mengalahkan segala keterbatasan yang ada. Minimnya peralatan tidak menjadi kendala untuk para anggota meningkatkan skill dalam berorganisasi maupun beraktivitas alam bebas. Api ungun demi api ungun selalu menyala di depan sekretariat yang seolah telah menjadi rumah kedua.

Pada tahun 1993 – 1997, era kehidupan kampus tidak luput dari intrik-intrik politisasi kampus. Begitu pula yang terjadi di Faperta Unpad, sehingga sedikit banyak menarik Mahatva ke dalam pusaran arusnya. Mahatva tumbuh menjadi organisasi minat khusus memiliki ciri khas dibandingkan organisasi lain. Jiwa korsa yang tinggi, loyal, setia kawan, berjiwa survive, tangguh, dan pantang menyerah. Pilihan Mahatva untuk menjadi independen dalam menentukan garis kebijakan organisasi menjadi garda terdepan keberadaan PKM sebagai sentra kegiatan mahasiswa, berimbas pada dikotomi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) – Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) sebagai kutub para aktivis kampus Faperta.

Empat periode awal kepengurusan Mahatva, Angkatan Pendiri masih terlibat sebagai Ketua Dewan Pengurus (DP), yaitu Kang Devil (DP I), Kang Imam Mukhlish (DP II), Kang Agus Komarudin (DP III), dan Kang Gepeng (DP IV). Memasuki periode berikutnya transisi kepengurusan beralih ke Angkatan PUMA, RASE, dan seterusnya. RASE merupakan angkatan pertama dimana Mahatva memiliki anggota perempuan pertama yang mengikuti Pendidikan Dasar Mahatva.

Tahun demi tahun, anggota pun bertambah. Seiring berjalannya waktu, PMPR & PG Mahatva mengalami dinamika fundamental yang membentuk perhimpunan ini menjadi unik. Selang 12 hingga 14 tahun sejak Mahatva berdiri, terdapat keinginan para anggota untuk mengembangkan perhimpunan menjadi lebih kontributif terhadap ilmu pertanian secara umum. Hal ini dimulai ketika angkatan Serigala–yang beranggotakan Kang Acil, Kang Jack, Kang Cecep, Kang Candra dan Kang Dogel, mengalami kesulitan dalam menemukan formula untuk perjalanan/ekspedisi pengambilan nomor (NPA anggota biasa). Kesulitan tersebut terjadi akibat lokasi perjalanan yang rata-rata sudah pernah dijamah oleh organisasi serupa.

Secara paralel di level pengelola Fakultas, Gunardi Judawinata–Kang Andi Daging, ditunjuk sebagai Pembantu Dekan III dan langsung memanggil seluruh elemen mahasiswa, serta memberikan instruksi agar kegiatan kemahasiswaan lebih substantif dan beririsan dengan keilmuan yang didapat di bangku kuliah. Rahmat Basuki–Kang Babas, dipanggil oleh Kang Andi Daging untuk menonjolkan kegiatan pembeda di Mahatva, karena organisasi sejenis (e.g. Wanadri) telah lebih dulu melakukan kegiatan serupa. Kang Babas pun saat itu menginstruksikan kepada angkatan Serigala (saat itu masih menjadi Anggota Muda) agar berpikir keras untuk melakukan perjalanan pengambilan NPA yang betul-betul berbeda.

Pada akhirnya, angkatan Serigala sepakat untuk melakukan perjalanan dan mengusulkan proposal untuk pendanaan. Kang Jack dan Kang Cecep pun pergi ke kampus utama di Dipati Ukur untuk audiensi proposal dan ditemani oleh Kang Andi Daging. Audiensi gagal karena Pembantu Rektor III saat itu, dr. Trias Nugrahadi, sedang tidak ada ditempat. Mereka bertiga pun akhirnya ngobrol santai di lesehan Gedung 4 Kampus Dipati Ukur. Tercetuslah kata-kata dari Kang Andi Daging yang kurang lebih berbunyi:

Wanadri mah anggota na ti préman nepi ka propesor ogé aya, mun Mahatva anggota-na homogen, mahasiswa kabeh, iyeu teh bakal jadi kekuatan maraneh nu ngabedakeun antara maneh jeung Wanadri. Cik atuh nyieun kegiatan téh nu beda.

Akhirnya, tercetuslah ide tentang menggabungkan ilmu pertanian dengan kegiatan alam bebas, yang betul-betul bisa membedakan Mahatva dengan organisasi sejenis. Angkatan Serigala pun akhirnya memulai langkah baru ini dengan melakukan eksplorasi plasma nutfah anggrek di Gunung Manglayang. Langkah ini diikuti dengan kegiatan eksplorasi seperti studi fenomonologi, kajian etnobotani, ekpsedisi etnofarmakologi, dan lainnya oleh angkatan Panglima, Harimau, dan seterusnya hingga saat ini. Selain perjalanan pengambilan NPA, ekspedisi Anggota Biasa pun akhirnya bisa diinisiasi sejak tahun 2011 dengan melakukan ekspedisi di Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit Dua Belas, dan Taman Nasional Way Kambas. Hal tersebut berlanjut hingga saat ini, di tahun 2024, dimana para Anggota Biasa melakukan Ekspedisi Trilogi Khatulistiwa di Taman Nasional Manusela.

Terakhir, Mahatva menjalin kerja sama dengan Wanadri dalam penyelenggaraan ekspedisi besar bertajuk Buru Expedition 2025. Kegiatan ini berfokus pada eksplorasi plasma nutfah flora di Pulau Buru, khususnya di kawasan Tebing Kakumahu dan Gunung Kapalatmada, untuk menilai nilai ekologis hutan Pulau Buru. Hasil ekspedisi ini menjadi dasar penting dalam penyusunan strategi konservasi yang tepat bagi kawasan tersebut. Selain itu, ekspedisi ini juga memberikan manfaat akademik bagi para peserta, di mana mereka memperoleh konversi hingga 20 SKS serta memanfaatkan hasil penelitian ekspedisi sebagai bahan tugas akhir/skripsi.

Sekarang, setelah 30 tahun lebih berdiri, Mahatva akan terus melakukan eksplorasi dan penjelajahan demi menemukan inovasi dan invensi agar pertanian di Indonesia terus berkembang. Mahatva akan terus melakukan eksplorasi ilmiah karena para anggota Mahatva telah dibekali dengan mountaineering skills, technical skills, dan scientific skills.

Penulis : Jakty Kusuma – M 124 SERIGALA