gunung agung 1

Menapaki Kesucian Gunung Agung: Ekspedisi Lima Anggota Muda Mahatva ke Puncak Pulau Dewata

Rate this post

Bagi masyarakat Bali, Gunung Agung bukan sekadar formasi geologis, ia adalah Gunung Besar, poros spiritual Pulau Dewata yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Bagi kami, lima anggota muda Mahatva (Dinan Nurhayat, Al-Maula Rijal, Aldy M. Faiz, Aldi Guntara, dan Daniel Karel), gunung setinggi 3.142 mdpl ini menjadi medan uji sekaligus ruang pendewasaan setelah ditempa dalam pendidikan dasar yang mengajarkan kami bersatu dalam badai, angin, dan kabut. Dengan satu visi dan semangat kolektif, tim ekspedisi memilih Gunung Agung sebagai destinasi perjalanan pengukuhan nomor pokok anggota, sebuah pilihan yang tidak hanya menantang fisik, tetapi juga menghormati nilai spiritual dan kekayaan alam Bali.

Pelepasan Tim Ekspedisi Gunung Agung Mahatva : Dari Fakultas hingga ke Bali

Pada 29 Juni 2012 dilakukan pelepasan dari Jatinangor, Perjalanan dimulai dengan upacara pelepasan di kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Setelah doa dan pesan dari senior, kami bergegas ke rumah Dinan untuk transit singkat sebelum menuju Terminal Cicaheum, Bandung. Di sana, kami menaiki bus Kramat Djati yang akan membawa kami menyeberangi Pulau Jawa menuju Bali. Di Cileunyi, perjalanan kami diperkaya kehadiran Kang Are, pendamping ekspedisi yang turut menemani kami hingga ke kaki Gunung Agung.

Memasuki 30 Juni 2012, Tim Ekspedisi tiba di Pulau Dewata. Setelah menempuh perjalanan darat selama lebih dari 24 jam, kaki kami akhirnya menginjak tanah Bali sekitar pukul 21.20 WITA. Dari Terminal Mengwi, setelah berkoordinasi dengan pengemudi, kami beralih ke mobil angkot charter yang telah menunggu di luar terminal. Perjalanan malam yang sunyi membawa kami menyusuri jalan berkelok menuju kaki Gunung Agung. Sekitar pukul 02.20 WITA, kami tiba di Besakih, kawasan yang tak hanya dikenal sebagai lokasi Pura Besakih (Pura Agung terbesar di Bali), tetapi juga sebagai gerbang spiritual menuju puncak suci. Setelah mencari penginapan sederhana, tim ekspedisi beristirahat sekitar pukul 03.00 WITA, mempersiapkan tenaga untuk pendakian esok hari.

Tim Ekspedisi Mahatva Memulai Pendakian Gunung Agung

Pada 1 Juli 2012 Jejak Cemara Berdarah dan Ladang Edelweiss.Pagi buta pukul 06.30 WITA, kami bangun dengan semangat membara meski hanya beristirahat tiga jam. Dari Besakih, kami berpindah ke Dusun Jugul, titik awal pendakian yang terletak di ketinggian sekitar 1.400 mdpl. Pukul 09.45 WITA, langkah pertama kami mulai dengan memotong jalur menyusuri punggungan menuju Temukus, demi menelusuri legenda cemara berdarah yang konon getahnya digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat setempat.

Perjalanan kami disuguhi pemandangan yang tak terduga: hamparan bunga edelweiss (Anaphalis javanica) yang tumbuh liar di lereng gunung. Bunga putih berbulu halus ini tidak hanya menjadi penanda kawasan alpine, tetapi juga memiliki nilai sakral dalam upacara keagamaan Hindu Bali. Sekitar pukul 13.00 WITA, kami menemukan pohon cemara berdarah yang dituju, batangnya mengeluarkan getah kemerahan ketika disayat. Kami mendokumentasikan temuan ini sekaligus mengambil sampel kecil untuk dokumentasi ilmiah, sambil beristirahat dan menikmati bekal makan siang di bawah teduhnya pepohonan.

Selepas istirahat, kami kembali menyusuri punggungan dan menemukan formasi batuan vulkanik berupa bekas aliran lava dari letusan besar Gunung Agung pada tahun 1963, sebuah pengingat akan kekuatan alam yang membentuk lanskap Bali hingga hari ini. Kembali ke jalur Jugul, medan terus menanjak melewati hutan cemara dan semak belukar. Sekitar pukul 17.30 WITA, kami tiba di lokasi camp menjelang senja. Di bawah sinar bulan yang redup, kami mendirikan tenda, menyiapkan makan malam, dan beristirahat pukul 22.00 WITA, tubuh letih, tetapi jiwa penuh syukur.

Summit Attack Menuju atap Gunung Agung

Pada 2 Juli 2012 Pukul 03.30 WITA, kami bangun dalam gelap dan dingin menusuk (suhu di ketinggian 2.800 mdpl mencapai 8–10°C). Perjalanan menuju puncak dimulai dengan medan ekstrem: batuan besar yang harus dipanjat, lalu berubah menjadi pasir vulkanik bercampur kerikil di atas batas vegetasi. Setiap langkah harus penuh kewaspadaan, di sisi jalur menganga jurang dalam yang siap menguji konsentrasi kami.

Tepat pukul 06.30 WITA, langkah terakhir kami sampai di puncak Gunung Agung. Di ketinggian 3.142 mdpl, kami berdiri di atas lautan awan yang menggulung perlahan. Di kejauhan, siluet Gunung Rinjani di Lombok terlihat jelas, sementara kawah Gunung Batur yang masih aktif mengeluarkan asap tipis memanjakan mata. Matahari terbit perlahan menyinari cakrawala, mengubah langit menjadi gradasi jingga dan emas, momen sakral yang membuat kami spontan melakukan shalat Subuh berjamaah di puncak. Tubuh menggigil hebat, ingus tak henti mengalir, tetapi ketenangan batin mengalahkan dinginnya angin puncak. Tak lupa, panji Mahatva berkibar di puncak tertinggi Bali, menjadi saksi bisu tekad lima pemuda yang percaya pada kekuatan persaudaraan.

Turun Gunung dan Perpisahan dengan Bali

Setelah mengabadikan momen puncak, kami segera turun menuju camp untuk membersihkan lokasi dan berkemas. Medan turun di jalur Jugul ternyata tak kalah menantang, pasir vulkanik yang licin membuat beberapa anggota tim terjatuh berkali-kali, tetapi semangat gotong royong membuat kami saling menopang hingga tiba di titik awal pendakian sekitar pukul 11.00 WITA.

Kami membersihkan diri dengan mandi di rumah warga sekitar yang dengan ramah membuka pintu mereka. Malam harinya, kami diizinkan menginap di sekretariat Betalgo, sebuah wadah komunitas pecinta alam lokal yang menjadi jembatan kami dengan masyarakat Bali. Keesokan harinya, kami menyempatkan diri menjelajahi keindahan Bali: dari sawah terasering hingga pasar tradisional untuk membeli oleh-oleh khas.

Kembali ke Sekretariat Mahatva setelah Ekspedisi Gunung Agung Bali

Dengan hati penuh kenangan, kami kembali menaiki bus menuju Jawa. Pada 5 Juli 2012, langkah kami kembali menginjak halaman sekretariat Mahatva di Fakultas Pertanian Unpad. Perjalanan enam hari ini tidak hanya tentang mencapai puncak tertinggi Bali, ia adalah proses belajar menghormati alam, memahami nilai spiritual sebuah gunung suci, dan mempererat ikatan sebagai satu kesatuan: tim ekspedisi yang lahir dari badai, dan kini kokoh seperti Gunung Agung itu sendiri.

Catatan: Gunung Agung hingga kini tetap aktif dan dihormati sebagai poros kosmologi Bali. Pendakian harus selalu memperhatikan status vulkanik serta izin dari pihak berwenang setempat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *