ekspedisi biak mahatva sampai di halim

Babak Penutup Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 Mahatva Unpad : 26 Tumbuhan dan 32 Spesimen

5/5 - (1 vote)

Kali ini kita akan publikasi artikel terupdate dari Ekspedisi Biak Biodiscovery 2026 oleh PMPR & PG Mahatva KMFP – Unpad. Sobat semua, Setiap ekspedisi punya titik di mana ritme kerja berubah. Bukan lagi soal menemukan hal baru, tapi soal merapikan semua yang sudah didapat, dan mulai memikirkan cara pulang. Itulah yang terjadi pada tim Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 sepanjang 7 hingga 11 September 2026, lima hari yang menjadi penutup dari rangkaian panjang riset mereka di Pulau Biak.

Kalau sebelumnya cerita banyak berputar di sekitar spesimen dan desa-desa yang dikunjungi, di lima hari terakhir ini justru dua hal berjalan beriringan: menuntaskan data lapangan, sekaligus merangkai jalan pulang yang tidak sesederhana kelihatannya.

Senin, 7 September: Merapikan Urusan Sebelum Melangkah Lagi

berfoto di lanal biak
Tim Berfoto Bersama di Mako Lanal Biak

Hari dimulai bukan dengan kerja lapangan, melainkan dengan surat-menyurat. Tim mengirimkan permohonan resmi kepada Pangkodau III Biak dan Pangkalan TNI Angkatan Udara, meminta dukungan transportasi untuk proses kepulangan setelah seluruh rangkaian ekspedisi rampung. Urusan logistik semacam ini jarang terdengar seru, tapi bagi siapa pun yang pernah mengurus ekspedisi ke wilayah terpencil, inilah bagian yang menentukan apakah sebuah misi bisa pulang tepat waktu atau justru terjebak menunggu berhari-hari tanpa kepastian. Biak bukan kota dengan jadwal penerbangan komersial yang padat, jadi mengandalkan dukungan pesawat militer bukan pilihan mewah, melainkan kebutuhan realistis bagi tim yang harus membawa pulang bukan cuma anggota, tapi juga puluhan spesimen dan sampel penelitian.

Siang harinya, suasana berubah lebih hangat. Tim bersilaturahmi dengan Komandan Lanal Biak, melanjutkan komunikasi yang sudah terjalin sejak awal kedatangan mereka di pulau ini. Di sela obrolan itu, mereka juga menyusun rencana pergerakan menuju lokasi penelitian berikutnya.

foto bersama letnan Ary di Lanal biak
Tim ekspedisi berfoto bersama Letnan Ary Pasiter – Lanal Biak

Begitu urusan koordinasi selesai, tim langsung bergerak menuju Desa Wardo, kali ini menggunakan mobil pinjaman dari Lanal Biak. Tujuannya jelas: mendalami kajian etnobotani bersama masyarakat setempat. Malam itu mereka menginap di Desa Wardo, mempersiapkan diri untuk kerja yang lebih intens keesokan harinya.

Selasa, 8 September: Menyelami Lebih Dalam di Desa Wardo

Jika kunjungan-kunjungan sebelumnya ke desa-desa sekitar Biak lebih banyak berupa observasi awal, hari ini tim benar-benar menyelam. Seharian penuh dihabiskan untuk pendalaman kajian etnobotani di Desa Wardo, menggali bukan sekadar nama tumbuhan, tapi bagaimana masyarakat memanfaatkannya, mengolahnya, dan mewariskan pengetahuan itu dari generasi ke generasi.

Kerja semacam ini menuntut kesabaran. Tidak ada yang instan dalam menggali pengetahuan lisan seperti ini, semuanya bergantung pada seberapa terbuka warga berbagi cerita, dan seberapa telaten tim mendengarkan sebelum mencatat. Satu tumbuhan bisa punya beberapa nama lokal, beberapa cara pengolahan, dan makna berbeda tergantung siapa yang ditanya, sehingga tim harus mengonfirmasi ulang informasi dari lebih dari satu warga sebelum mencatatnya sebagai data yang valid. Hasilnya sepadan: data yang terkumpul hari ini melengkapi apa yang sudah dikumpulkan tim sejak minggu-minggu sebelumnya di Desa Ruar dan sekitarnya.

Menjelang malam, tim menyusun rencana untuk hari-hari berikutnya, follow up ke Lanud Manuhua Biak soal pengajuan Hercules, bergerak ke Desa Ruar untuk mengambil sampel buah mangrove, dan menindaklanjuti rencana pertemuan dengan Komandan Lanal Biak. Tiga agenda sekaligus, tanda bahwa waktu di Biak sudah mulai menyempit.

Baca Juga :
– Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026, Dari Spesimen Tumbuhan sampai Bolu Mangrove
– Tiga Hari Pertama Tim Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026

Rabu, 9 September: Buah Mangrove Terakhir dari Desa Ruar

Tim kembali ke Desa Ruar, kali ini bukan untuk observasi etnobotani seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, melainkan untuk mengambil sampel buah mangrove. Sampel ini melengkapi rangkaian material mangrove yang sudah dikumpulkan sejak temuan tentang aibon yang diolah jadi bolu dan stik beberapa hari sebelumnya. Buah, bukan cuma daun atau kulit batang, punya nilai tersendiri untuk penelitian lanjutan, terutama kalau nantinya potensi pangan dari mangrove ini ingin dikembangkan lebih jauh di laboratorium. Kegiatan berjalan lancar, dan seluruh anggota kembali dalam kondisi sehat.

upacara hut tni al
Tim Ekspedisi mengikuti Upacara HUT TNI AL di Lanal Biak

Ada satu agenda menarik yang mulai masuk radar tim: upacara peringatan HUT TNI Angkatan Laut di Lanal Biak. Setelah berbulan-bulan menerima dukungan logistik, akomodasi, sampai kendaraan dari Lanal Biak, kehadiran tim di upacara ini terasa seperti cara sederhana untuk membalas kebaikan yang sudah mereka terima selama ini.

Kamis, 10 September: Menutup Buku Penelitian

Hari ini, Kang Jakty Kusuma menyampaikan kabar yang selama ini dinanti-nanti seluruh anggota Mahatva: rangkaian utama penelitian Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 resmi selesai. Setelah lebih dari dua minggu berpindah dari satu desa ke desa lain, mengumpulkan cerita dan spesimen sedikit demi sedikit, akhirnya semua terangkum jadi hasil yang bisa dilaporkan secara utuh.

Dari sisi etnobotani, tim berhasil mendokumentasikan 26 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai obat maupun pangan, termasuk eksplorasi pemanfaatan mangrove sebagai salah satu sumber pangan lokal, temuan yang bermula dari obrolan sederhana di Desa Ruar dan berkembang jadi salah satu hasil paling menarik dari seluruh ekspedisi. Kajian ini bukan sekadar daftar nama tumbuhan. Tim juga mencatat bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, cara pengolahannya, hingga pengetahuan masyarakat yang menyertainya, sebuah potret utuh tentang bagaimana warga Biak hidup berdampingan dengan alam di sekitar mereka.

Dari sisi biodiversitas, hasilnya tidak kalah signifikan: 32 spesimen berhasil dikoleksi dari berbagai ekosistem di Pulau Biak. Spesimen-spesimen ini akan melalui proses identifikasi dan kajian lebih lanjut untuk memahami keanekaragaman hayati kawasan tersebut sekaligus potensi pemanfaatannya. Khusus material mangrove yang punya potensi sebagai pangan, sebagian sampel akan dibawa ke Laboratorium Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran untuk diuji lebih lanjut, memastikan temuan lapangan ini punya landasan data ilmiah yang kuat, bukan sekadar catatan observasi.

Bagi tim, angka-angka ini bukan sekadar statistik penutup laporan. Dua puluh enam tumbuhan dan tiga puluh dua spesimen adalah representasi dari berminggu-minggu berjalan kaki menembus hutan, menunggu warga bersedia bercerita, dan mencatat detail yang mudah terlewat kalau dikerjakan terburu-buru. Setiap spesimen yang masuk daftar itu melewati proses yang sama: ditemukan di lapangan, difoto, diberi label, dikeringkan atau diawetkan sesuai kebutuhan, lalu dicatat konteksnya, di mana ia tumbuh, siapa yang memanfaatkannya, dan untuk apa. Proses yang terdengar sederhana di atas kertas, tapi dalam praktiknya menyita waktu dan ketelitian yang tidak sedikit, apalagi dikerjakan di tengah medan yang jauh dari fasilitas laboratorium. Ekspedisi ini, menurut tim, telah berhasil memenuhi target yang direncanakan sejak awal.

Jumat, 11 September: Pulang dengan Cara yang Tak Terduga

Babak terakhir dari ekspedisi ini datang dengan kejutan yang manis. Alih-alih pulang menggunakan pesawat Hercules seperti yang diajukan sejak awal, tim justru mendapat dukungan pesawat Airbus A400M, unit yang tergolong baru, dari Lanud Manuhua Biak menuju Lanud Halim, dengan rute Biak–Merauke–Halim. Bagi penggemar dunia penerbangan dan alutsista, upgrade dari Hercules ke A400M ini bukan hal kecil, pesawat angkut militer generasi lebih baru dengan kapasitas dan jangkauan yang lebih besar, sesuatu yang jarang didapat oleh tim ekspedisi kampus biasa.

ekspedisi biak mahatva akan pulang
Tim Bersiap untuk meninggalkan Biak 2026

Bagi siapa pun yang mengikuti perjalanan tim sejak awal, dari audiensi di Mabes Koarmada RI bulan Juni, pelepasan di Bale Mandiri Faperta bulan Agustus, sampai hari-hari panjang di hutan dan desa-desa Biak, dukungan ini terasa seperti buah dari hubungan yang dibangun pelan-pelan, bukan sekadar bantuan birokratis. Kehadiran tim di berbagai koordinasi, silaturahmi, dan bahkan rencana menghadiri upacara HUT TNI Angkatan Laut, semuanya merajut kepercayaan yang akhirnya berbuah dukungan lebih dari yang diharapkan. Momen ini sekaligus menjadi langkah awal terjalinnya kerja sama yang lebih erat antara Fakultas Pertanian Unpad dan Kodau III ke depannya.

ekspedisi biak mahatva sampai di halim
Tim Ekspedisi Biodiscovery Biak 2026 sampai di Bandara Halim Perdanakusumah

Di penghujung ekspedisi, tim menyampaikan rasa terima kasih yang panjang, sepanjang perjalanan mereka di Biak. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor, IISIP YAPIS Biak, Balai Karantina Pertanian Papua, BBKSDA Papua, UPTD KPHL Unit XX Biak, seluruh Akang dan Eceu PMPR PG Mahatva, Koarmada RI, Koopsudnas, Kodaeral X, Kodau III, Lanal Biak, Lanud Manuhua, PT JGC Indonesia, Yayasan Bulan Hijau, Keluarga Alumni Faperta Unpad, dan Wanadri, semuanya disebut satu per satu, tanda bahwa ekspedisi sebesar ini memang tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.

Menutup Perjalanan, Membuka Babak Berikutnya

Dari audiensi strategis di Jakarta, sokongan industri lewat JGC Indonesia, pelepasan yang dihadiri ratusan orang, upacara adat di Kampung Kanaan, temuan bolu mangrove di Desa Ruar, sampai 26 tumbuhan dan 32 spesimen yang berhasil didokumentasikan, Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 menutup perjalanannya dengan hasil yang jauh melampaui sekadar catatan perjalanan biasa.

ekspedisi biak mahatva berfoto bersama warga wardo kanaan

Bagi para penikmat kegiatan outdoor, kisah ini barangkali jadi pengingat bahwa ekspedisi sejati bukan cuma soal medan yang ditaklukkan atau jarak yang ditempuh. Ia soal kesabaran membangun kepercayaan dengan masyarakat setempat, ketelitian mencatat apa yang mudah terlewat, dan keberanian menghadapi ketidakpastian logistik di wilayah yang jauh dari kota besar. Tidak ada rute yang benar-benar mulus di ekspedisi semacam ini, ada kepala desa yang harus dicari dua kali, surat yang harus diajukan berkali-kali ke instansi berbeda, dan rencana yang harus diubah begitu saja ketika kondisi lapangan tidak sesuai perkiraan. Justru dari sanalah pelajaran sesungguhnya didapat. Tim Mahatva pulang membawa data, spesimen, dan cerita, tapi juga membawa pulang jejaring dan persahabatan yang kemungkinan besar akan berlanjut jauh setelah pesawat mereka mendarat di Halim.

Semoga perjalanan pulang tim berjalan lancar dan aman, dan semoga hasil dari ekspedisi ini bisa terus dimanfaatkan untuk penelitian lanjutan, upaya konservasi, serta pengembangan potensi pangan lokal Pulau Biak secara berkelanjutan.

Editor : Noval – M.153. Badak Jawa

Sponsor Utama Oleh PT. JGC Indonesia :

JGC SPONSORSHIP

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *