Salam Sobat Mahatva, Lima hari berikutnya, tim Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 PMPR & PG Mahatva tidak berhenti bergerak. Dari desa ke desa, dari hutan ke pesisir, mereka mengumpulkan spesimen, menggali pengetahuan warga, sampai mulai memikirkan jalan pulang. Tidak ada hari yang benar-benar sama, tapi semuanya bermuara pada satu tujuan: memahami Biak lebih dalam, sedikit demi sedikit. Berikut rangkuman perjalanan tim sejak 2 hingga 6 September 2026.
Tim yang bertugas di lapangan sepanjang minggu ini terdiri dari Kang Jakty Kusuma, Ceu Dina Tri Wahyuni, Kang Ilham Adi Saputra Siregar, Kang Ben Adri Soeripto, Kang Zilan Arradin Nosa, dan Kang Yudi Dewantoro selaku pelapor harian. Seluruh anggota tetap dalam kondisi sehat, dan cuaca cerah mendukung kegiatan lapangan sepanjang lima hari ini.
Rabu-Kamis: Spesimen di Makmakerbo, Etnobotani yang Tertunda

Rabu, 2 September, tim bergerak dari Mess Lanal Biak menuju Desa Makmakerbo untuk melanjutkan pengambilan spesimen tumbuhan, dengan kendaraan yang difasilitasi Lanal Biak. Setelah spesimen terkumpul, tim singgah sejenak di Telaga Biru untuk beristirahat sekaligus mengecek kembali perlengkapan dan hasil temuan, sebelum kembali ke mess pada malam hari.

Keesokan harinya, giliran Desa Ruar yang jadi tujuan, sebuah kampung di pesisir utara Biak pada koordinat 1°11’06” Lintang Selatan dan 136°10’00” Bujur Timur, untuk observasi etnobotani. Rencana awal juga mencakup koordinasi ke Desa Mnuar, tapi tim harus berbalik arah karena kepala desa setempat sedang tidak berada di tempat. Bukan kemunduran besar, hanya pengingat bahwa jadwal di lapangan sering kali harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang tidak selalu bisa direncanakan dari jauh hari. Tim memilih pulang lebih awal ke mess ketimbang memaksakan koordinasi tanpa orang yang tepat untuk diajak bicara.
Artikel terkait : Tiga Hari Pertama Tim Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026
Jumat: Ketika Mangrove Berubah Jadi Bolu dan Stik
Jumat, 4 September, tim kembali ke Desa Ruar untuk melanjutkan kajian etnobotani, kali ini dengan hasil yang cukup mengejutkan. Warga setempat ternyata mengolah aibon, sebutan lokal untuk mangrove, menjadi camilan sehari-hari berupa bolu dan stik.


Temuan ini kecil di atas kertas, tapi besar maknanya. Mangrove selama ini lebih sering dibicarakan sebagai penahan abrasi atau penyerap karbon, jarang dilirik sebagai bahan pangan. Di tangan masyarakat Ruar, tanaman yang sama justru jadi sumber penghidupan dan camilan yang punya potensi nilai tambah jika dikembangkan lebih jauh. Penemuan semacam inilah yang membuat kerja etnobotani terasa relevan, bukan sekadar mencatat nama-nama tumbuhan, tapi menangkap cara masyarakat hidup berdampingan dengan alam di sekitar mereka.
Tim mencatat proses pengolahannya secara langsung dari warga, mulai dari cara memilih bagian mangrove yang layak diolah sampai teknik pengeringan sebelum dijadikan adonan, sebuah rantai pengetahuan yang selama ini hanya diwariskan lewat praktik, bukan lewat buku atau modul pelatihan.
Sabtu: Menyusuri Pesisir untuk Tim Kayak
Sabtu, 5 September, fokus tim bergeser ke wilayah pesisir Biak Timur. Mereka mengamati kondisi ekosistem mangrove di Tanjung Barari, sekaligus melakukan survei awal di Pulau Aoki dan Pulau Owi untuk mempersiapkan kegiatan Tim Kayak yang akan menyusul.

Survei ini bukan sekadar jalan-jalan mengelilingi pulau. Data kondisi lingkungan pesisir dan perairan yang dikumpulkan hari itu akan jadi bahan pertimbangan penting: seberapa layak jalur air di sekitar Aoki dan Owi untuk dilalui, dan bagaimana kondisi ekosistem di sana sebelum tim kayak benar-benar turun. Pengamatan di Tanjung Barari sendiri difokuskan pada kerapatan dan kondisi hutan mangrove, informasi dasar yang nantinya bisa dibandingkan dengan temuan pemanfaatan mangrove di Desa Ruar sehari sebelumnya. Di sela survei, tim juga sempat berkoordinasi dengan pihak desa yang rencananya jadi lokasi kajian etnobotani berikutnya.
Minggu: Mulai Memikirkan Jalan Pulang
Enam September, agenda tim penuh dengan koordinasi. Pagi dimulai dengan pembicaraan bersama pihak Desa Wardo untuk mempersiapkan kajian etnobotani yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Tim juga menjajaki kemungkinan yang cukup menarik: mengajukan dukungan transportasi pesawat Hercules kepada Pangkodau III Biak untuk proses kepulangan mereka nanti, sekaligus berkoordinasi dengan Lanal Biak soal rencana pertemuan silaturahmi.

Mengurus kepulangan dari wilayah seperti Biak bukan perkara sederhana. Keterbatasan penerbangan komersial ke dan dari kawasan timur Indonesia membuat opsi seperti pesawat Hercules jadi pertimbangan realistis, bukan sekadar formalitas administratif. Langkah-langkah ini menandakan satu hal: meski ekspedisi masih berjalan dan ada rencana kajian etnobotani di tiga desa sekaligus, yaitu Wardo, Ruar, dan Mnuar, tim sudah mulai memikirkan bagaimana cara pulang dengan aman dan efisien dari Biak.

Perjalanan yang Terus Ditopang Banyak Pihak
Di penghujung laporan minggu ini, tim kembali menyampaikan terima kasih kepada semua yang telah membantu perjalanan mereka, mulai dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Koarmada RI, Kodaeral X, Lanal Biak, PT JGC, Yayasan Bulan Hijau, KAFP, Wanadri, hingga seluruh Akang dan Eceu PMPR & PG Mahatva yang terus memberi dukungan dari jauh.
Lima hari ini menunjukkan wajah lain dari sebuah ekspedisi ilmiah, tidak melulu soal penemuan besar, tapi juga soal ketekunan menjalani rutinitas lapangan yang berulang: berangkat, mengamati, mencatat, berkoordinasi, lalu kembali lagi esok hari. Dari situlah data dan pengetahuan perlahan terkumpul. Mahatva berharap doa dan dukungan terus mengalir agar sisa rangkaian ekspedisi berjalan lancar sampai tim kembali ke Bandung dengan selamat.

Simak Terus perjalanan Ekspedisi dari Biak Biodiscovery 2026, Sekian Artikel PMPR & PG Mahatva ini semoga Bermanfaat. Mahatva!
Editor : M.153. Badak Jawa


