Laporan Biak Biodiscovery 2

Tiga Hari Pertama Tim Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026, Disambut Adat dan Diterima Pemerintah Daerah

5/5 - (2 votes)

Lima ekspeditor Mahatva baru saja mendarat di Biak ketika hari-hari sibuk mereka dimulai. Dalam rentang tiga hari, tim ini berpindah dari ruang rapat pemerintah daerah, upacara adat di kampung pedalaman, sampai ke hutan tempat mereka memulai kerja lapangan yang sebenarnya. Berikut catatan perjalanan mereka sejak tiba di Biak, 30 Agustus hingga 1 September 2026.

Tim yang bergerak di lapangan terdiri dari Kang Jakty Kusuma, Ceu Dina Tri Wahyuni, Kang Ilham Adi Saputra Siregar, Kang Ben Adri Soeripto, Kang Zilan Arradin Nosa, dan Kang Yudi Dewantoro selaku pelapor harian. Seluruh anggota melaporkan kondisi sehat dan cuaca cerah sepanjang tiga hari pertama ini.

Hari Pertama: Koordinasi Sebelum Melangkah

Dukungan Koarmada melalui Lanal Biak ke Tim Ekspedisi Biak BioDiscovery PMPR & PG Mahatva Faperta Unpad

Minggu malam, 30 Agustus, tim tiba dan menetap sementara di Rumah Singgah Lanal Biak. Belum ada pergerakan ke lokasi penelitian pada hari itu. Alih-alih terburu-buru masuk hutan, tim memilih jalur yang lebih hati-hati: bertemu Kepala Desa Wardo dan pemerintah daerah setempat lebih dulu.

Langkah ini terbukti penting. Ekspedisi ke wilayah seperti Biak bukan cuma soal kesiapan fisik dan logistik, tapi juga soal membangun kepercayaan dengan orang-orang yang lebih dulu menjaga tanah itu.

Hari Kedua: Dari Ruang Rapat Bupati ke Upacara Adat

Senin pagi, tim bergerak ke Kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor untuk rapat koordinasi resmi. Hampir seluruh unsur pemerintah daerah hadir, mulai dari Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Lingkungan Hidup, sampai Dinas Pariwisata. Pertemuan ini jadi tindak lanjut atas pemberitahuan resmi soal ekspedisi, sekaligus memastikan dukungan pemerintah kabupaten untuk seluruh rangkaian kegiatan.

Selesai urusan administratif, suasana berubah total. Tim bergerak ke Kampung Kanaan di Wardo untuk mengikuti upacara adat penyambutan. Ini bukan sekadar seremoni. Bagi masyarakat setempat, upacara ini adalah cara menghormati siapa pun yang datang dan akan tinggal di tanah mereka untuk sementara waktu. Bagi tim ekspedisi, ini jadi pengingat bahwa mereka adalah tamu yang harus menjaga adab, bukan sekadar peneliti yang datang membawa alat dan kepentingan sendiri.

Hari Ketiga: Turun ke Hutan, Menemukan Kearifan Pangan Lokal

Identifikasi, determinasi, dan penyiangan spesimen koleksi dari hutan Pulau Biak

Selasa, 1 September, barulah kerja lapangan yang sesungguhnya dimulai. Tim Peneliti Biodiversitas masuk ke kawasan hutan Kampung Kanaan untuk mengambil spesimen tumbuhan, diantar langsung oleh Kepala Desa Kanaan.

Di saat bersamaan, Tim Etnobotani menempuh jalur berbeda. Mereka mengunjungi Hotel Arumbai untuk menggali informasi soal pemanfaatan tumbuhan lokal, berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, sampai bertemu langsung dengan Bupati Biak Numfor.

Dari sinilah muncul temuan yang paling menarik dari tiga hari pertama ini. Masyarakat Biak ternyata punya cara panjang dalam mengolah pangan dari alam sekitar. Sagu diolah patinya menjadi pepes sagu. Singkong, ubi jalar, dan talas direbus, dikukus, diparut, atau diolah jadi nasi keladi. Biji pokem atau hotong dijadikan bubur. Daun kelor, sirih cina, mengkudu, melinjo, dan daun ubi jalar jadi sayuran sehari-hari, sementara daun sirsak dan kedondong diseduh jadi teh. Buah-buahan seperti pepaya, pisang, bengkuang, jambu air, dan berbagai jenis labu dikonsumsi langsung atau diolah jadi minuman.

Bukan resep-resep rumit. Justru kesederhanaan itu yang membuatnya bertahan turun-temurun, dan menjadi salah satu alasan kenapa ekspedisi seperti ini penting: mendokumentasikan pengetahuan yang selama ini hidup dari mulut ke mulut, sebelum ia perlahan terlupakan.

Selesai kerja lapangan, tim kembali ke Kantor Desa Kanaan untuk mengecek spesimen, lalu bertolak kembali ke Mess Lanal Biak. Seluruh anggota dan perlengkapan tiba dengan aman.

Perjalanan yang Ditopang Banyak Tangan

Tiga hari ini tidak akan berjalan mulus tanpa dukungan banyak pihak. Tim secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Koarmada RI, Kodaeral X, Lanal Biak, PT. JGC Indonesia sebagai sponsor utama, Yayasan Bulan Hijau, KAFP, dan Wanadri, serta seluruh Akang dan Eceu PMPR PG Mahatva yang terus mendampingi dari jauh.

penyerahan simbolis sponsorship dari PT. JGC Indonesia
CSR PT. JGC Indonesia

Perjalanan ekspedisi ini masih panjang. Tapi tiga hari pertama sudah menunjukkan arah yang jelas: sebuah misi ilmiah yang berjalan beriringan dengan penghormatan pada budaya dan pengetahuan lokal. Mahatva berharap doa dan dukungan terus mengalir agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar sampai tim kembali dengan selamat.

Bukan Sekadar Mendaki, Mahatva Unpad dan Tradisi Panjang Riset di Alam Liar

Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (PMPR & PG) Mahatva Unpad bukan organisasi pencinta alam biasa. Mahatva berjalan di jalur scientific exploration, mengedepankan riset dan eksplorasi ilmiah di setiap perjalanan mereka, bukan sekadar mendaki gunung atau menembus rimba demi sensasi petualangan semata.

Jejak ini sudah terbangun lebih dari 2 dekade sejak 2007. Pada tahun 2013, Mahatva memberangkatkan Ekspedisi Seram Safir Indonesia ke Taman Nasional Manusela di Pulau Seram, Maluku, meneliti flora endemik seperti Anggrek Manusela dan Pakis Binaya di kaki Gunung Binaya sekaligus mengamati kehidupan Suku Alifuru, dan mengklaim diri sebagai kampus pertama yang melakukan ekspedisi penelitian ke taman nasional tersebut.

Semangat itu terus berlanjut ke generasi berikutnya. Pada 2024, 18 anggota Mahatva menjalankan Ekspedisi Trilogi Khatulistiwa, membagi tim ke Maluku, Banten, dan Yogyakarta untuk mengkaji etnobotani tanaman obat sekaligus mengasah kemampuan mountaineering, lalu pulang membawa ratusan spesimen herbarium dari ketiga wilayah tersebut. Setahun berikutnya, Mahatva berkolaborasi dengan Wanadri dan sejumlah lembaga lain dalam Buru Expedition 2025, menjelajah Gunung Kapalatmada dan Tebing Kaku Mahu di Pulau Buru untuk meneliti plasma nutfah flora sebagai dasar penyusunan strategi konservasi kawasan tersebut.

Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 adalah kelanjutan dari jejak panjang itu. Sama seperti pendahulunya, tim yang berangkat ke Papua ini membawa misi yang sama: menembus alam bukan untuk menaklukkannya, tapi untuk memahaminya, mendokumentasikan pengetahuan yang ada, dan membawa pulang temuan yang bisa bermanfaat bagi dunia keilmuan sekaligus masyarakat setempat.

Dilaporkan oleh : Yudi Dewantoro M.317. Rangkong
Di Edit oleh : Noval – M.153. Badak Jawa

Simak tulisan ekspedisi dan eksplorasi lain disini : https://mahatva.or.id/category/ekspedisi/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *