Memasuki pertengahan tahun 2026, dunia semakin dihadapkan pada urgensi krisis iklim dan ancaman kepunahan keanekaragaman hayati. Di titik kritis pencapaian target Global Biodiversity Framework dekade ini, upaya pelestarian alam tak lagi bisa sekadar bergantung pada retorika. Konservasi saat ini menuntut data yang komprehensif, pelibatan masyarakat lokal, dan pendekatan sains yang multidisiplin. Menjawab tantangan global tersebut, delegasi mahasiswa Universitas Padjadjaran kembali menorehkan prestasi membanggakan di panggung akademik internasional.
Pada tanggal 11 hingga 12 Juni 2026, Yogyakarta menjadi tuan rumah perhelatan bergengsi 2nd International Symposium on Wildlife Biodiversity Conservation. Simposium ini menjadi titik kumpul para akademisi, peneliti, dan praktisi lingkungan dari berbagai belahan dunia untuk merumuskan masa depan ekosistem bumi. Di antara deretan peneliti dunia tersebut, hadir enam delegasi luar biasa dari Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (PMPR & PG) Mahatva, Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian (KMFP) Universitas Padjadjaran.

Kehadiran tim Mahatva KMFP Unpad di simposium ini bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai pemakalah yang mempresentasikan temuan penting dari perjalanan “Ekspedisi Buru”. Ekspedisi yang berlokasi di Pulau Buru, Maluku, ini menjadi bukti nyata transformasi paradigma organisasi pecinta alam di kampus: dari sekadar penjelajah rupa bumi menjadi garda terdepan penjelajah ilmu pengetahuan yang berkontribusi pada literatur konservasi dunia.
Dalam simposium tersebut, keenam anggota Mahatva KMFP Unpad memaparkan riset yang saling berkesinambungan, membedah lanskap ekologi hingga sosial-ekonomi Pulau Buru.
Pada ranah ekologi lanskap dan biodiversitas flora, Kang Jakty Kusuma (NPA: M.124.SERIGALA) membuka diskusi dengan presentasi bertajuk “From Lowland to Montane: Patterns of Floral Diversity across Kapalatmada Mountain, Buru Island”. Penelitian ini sangat krusial di tahun 2026, di mana pergeseran sabuk vegetasi akibat pemanasan global sedang menjadi isu hangat. Melengkapi kajian tersebut, Kang Bagas Aditya (NPA: M.300.MALEO) mempresentasikan divergensi fenotipik tanaman Etlingera (sejenis kecombrang/jahe-jahean) di sepanjang gradien elevasi Gunung Kapalatmada.
Kajian fundamental ini kemudian ditarik lebih dalam ke ranah molekuler oleh Ceu Haliza Fitriana (NPA: M.304.MALEO) melalui riset “First Microsatellite Markers for Etlingera sp. from Buru Island Reveal Early Signals of Population Genetic Structure”. Di era konservasi genetik saat ini, temuan marka mikrosatelit menjadi fondasi penting untuk memetakan dan melindungi struktur genetik populasi tumbuhan endemik dari ancaman kepunahan.
Tidak berhenti pada ilmu murni, delegasi Mahatva juga membawa narasi sosial-ekonomi dan kearifan lokal yang kini menjadi pilar utama pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Kang Farhat Hakam Haidir (NPA: M.310.RANGKONG) membawakan topik “From Grove to Market: Mapping the Coconut Value Chain in Waplau, Buru Island, to Strengthen Sustainable Rural Bioeconomies”. Di tengah transisi global menuju ekonomi hijau pada 2026, pemetaan rantai pasok kelapa ini menawarkan solusi konkret bagi pemberdayaan ekonomi pedesaan yang selaras dengan alam.
Pendekatan kearifan lokal juga disuarakan dengan lantang oleh Ceu Rivani Natalia (NPA: M.313.RANGKONG) yang mempresentasikan “Farming with the Forest: Local Agroecological Wisdom and Landscape Stewardship Practices on Buru Island”. Ia menegaskan bahwa masyarakat adat dan lokal adalah penjaga bentang alam terbaik yang tak terpisahkan dari ekosistem hutan.
Sebagai penutup yang kuat, Ceu Amelia (NPA: M.318.RANGKONG) mengangkat isu ekofeminisme melalui paparan bertajuk “Women at the Core of ‘Cajuput’ Landscapes: Gendered Knowledge and Contributions to Melaleuca leucadendra Management on Buru Island”. Kajian ini menyoroti bagaimana perempuan memiliki peran sentral dan pengetahuan mendalam dalam pengelolaan lanskap kayu putih, sebuah perspektif gender yang seringkali terpinggirkan dalam sejarah kebijakan tata kelola hutan.
Kiprah PMPR & PG Mahatva KMFP Unpad di 2nd International Symposium on Wildlife Biodiversity Conservation membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai agen perubahan di lapangan, tetapi juga sebagai produsen pengetahuan (knowledge producer) yang diakui dunia. Di tengah tantangan ekologi tahun 2026, dedikasi tim Ekspedisi Buru menyalakan harapan baru. Mereka telah membawa “Suara dari Timur”, merawat kepingan surga biodiversitas Maluku, dan memastikan bahwa kelestarian alam Indonesia tetap terjaga untuk generasi yang akan datang.
Bagi civitas academica Unpad, pencapaian ini adalah sebuah kebanggaan sekaligus inspirasi bahwa langkah kecil di tapak rimba, jika dibarengi dengan ketajaman analisis ilmiah, mampu menggema di panggung dunia.



